Disiplin Tanpa Kekerasan

Mendisiplinkan anak memang tidak mudah. Hukuman fisik dan teriakan hanyalah cara instan untuk menghentikan sesaat perilaku yang tidak tepat. Sedangkan hukuman fisik akan menyebabkan anak-anak bertindak karena takut, bukan karena kesadaran untuk bertindak dengan rasa tanggung jawab.

Anak-anak yang sering dihukum secara fisik, cenderung menjadi kurang percaya diri atau justru menjadi agresif. Memukul anak tidak mengajarkan apa-apa padanya, kecuali mendidiknya untuk memukul pula.

Ajarilah disiplin tanpa unsur kekerasan di dalamnya, sehingga mereka paham perilaku yang dapat diterima dalam batas tertentu. Kuasai dulu amarah anda sebelum berhadapan dengan anak.

Buat aturan-aturan yang jelas dengan anak, apa yang boleh dan apa yang tidak. Kapan waktu untuk bermain dan kapan waktu belajar. Aturan yang jelas memudahkan anak untuk memahami batasan dan harapan Anda.

Beri hukuman yang sesuai dengan kesalahannya, kalau anak mengotori lantai misalnya, maka hukumlah dia dengan cara membersihkannya.

Setelah jeda sesaat, jelaskan pada anak alasan mengapa Anda marah padanya dan mengapa ia tidak boleh mengulangi perbuatannya.

Disiplin merupakan sebuah proses panjang. Orangtua harus bersabar dengan kecepatan anak yang berbeda-beda dalam mempelajari ketrampilan ini, yang pasti proses pembiasaan haruslah terus berkelanjutan.

Read More......

Bermain Kartu Sambil Mengasah Kemampuan Kognitif

Belum banyak yang mengetahui bahwa permainan kartu ternyata tak hanya mengasikkan, tapi juga membantu mengasah otak si kecil. Dibandingkan mainan elektronik yang membutuhkan listrik dan kurang mengajarkan sosialisasi pada anak-anak, permainan kartu menjadi alternatif yang baik. Apalagi permainannya pun dilakukan secara bersama-sama.

Permainan yang mudah dibawa ke mana-mana ini, juga cukup "kompetitif" dan tidak membuat anak menjadi ketagihan karena hanya dimainkan sekitar 1-2 jam.

Ada banyak ragam cara yang dapat dimainkan dengan kartu, misalnya empat satu, cangkulan, minuman, kuartet, domino dan lainnya. Melalui bermain kartu, si kecil tidak sekadar bermain, tapi secara tak langsung juga belajar. Apa saja?

1. Mengenal Konsep
Anak belajar mengenal beberapa konsep, seperti bentuk, warna, angka dan kelompok. Konsep bentuk, umpamanya, kartu remi ada bentuk daun, hati, keriting, dan wajik. Kemudian konsep angka, misalnya, ada angka 1 sampai 10. Konsep warna, kartu remi ada merah dan hitam, serta pengelompokan seperti dalam kuartet.

2. Mengasah kemampuan bersosialisasi
Permainan kartu dilakukan oleh 2-4 orang, sehingga mengasah kemampuannya bersosialisasi. Berbeda dengan permainan kartu yang dilakukan pada game elektronik yang cenderung bersifat individual. Di sini, lebih ditekankan faktor sosial, berkumpul dan bermain bersama teman.

3. Menjalin kedekatan
Saat kumpul bersama keluarga, permainan kartu bisa menjadi aktivitas alternatif. Kartu dapat dimainkan semua orang, baik si kecil, orangtua, kakak, dan lainnya. Secara tak langsung permainan ini menjalin ikatan antara orangtua dan anak. Keterlibatan bermain orangtua, akan membuat si kecil merasa diterima dan dipahami sehingga dapat mengembangkan konsep diri yang positif baginya.

4. Belajar mengikuti aturan permainan
Dengan mematuhi dan memahami aturan yang berlaku pada permainan itu, maka anak sekaligus belajar disiplin dengan aturan main yang ada. Contoh, saat main minuman, kapan saatnya dia mengambil kartu, sebaliknya kapan dia "membuang" kartu. Dengan memahami, mematuhi dan disiplin pada aturan permainan, maka jalannya permainan akan berlangsung dengan baik.

5. Belajar sportif
Ada yang kalah dan ada yang menang, si kecil juga belajar untuk bersikap sportif. Setiap permainan pasti ada menang atau kalah dan ia pun akan mampu menerima kenyataan kalau dirinya kalah. Sikap sportif juga harus diperlihatkan dengan menerima "sanksi", misalnya wajahnya dicoret bedak, atau mengocok kartu. Begitu juga bila ia menang, ajarkan sikap sportif dengan tidak bersikap sok jagoan atau sombong.

6. Mengasah kemampuan kognitif
Seperti juga catur, permainan kartu membutuhkan strategi untuk mengalahkan lawan sehingga menstimulasi aspek kognitifnya. Ia akan diajak untuk memperkaya kemampuan berpikir, menganalisa serta mencari jalan keluar agar tidak kalah. Misalnya ketika ia harus memutuskan kartu apa yang harus ia keluarkan, bagaimana ia meraih kesempatan untuk menang lebih banyak. Meski diajak berpikir, ia tetap merasa asyik dan rileks.

7. Menambah wawasan
Sambil bermain kartu, pengetahuan si kecil pun bertambah. Misalnya saat ia bermain kartu kuartet, bertema pahlawan nasional. Mereka akan berlomba mengumpulkan seri tokoh-tokoh secepat mungkin agar bisa memenangkan permainan. Sambil main, anak jadi tahu nama-nama tokoh pahlawan, juga wawasan lain dengan kartu yang berbeda.

Read More......
Template by : Kendhin x-template.blogspot.com